Belajar Sedikit Makna Perjalanan di Gunung Batukaru



Apasih sebenarnya dasar seseorang melakukan petualangan ? apakah untuk sekedar menghilangkan penat ? atau hanya sebagai ajang pamer di sosmed ? atau bagaimana jika ku ubah pertanyaannya menjadi, mengapa seseorang menolak jika diajak berpetualang ? apakah karena ia tidak suka jalan-jalan ? atau sedang tidak punya uang ? atau apa ?
Pendakian gunung Batukaru pada 3 mei 2019 menjadi pendakian gunung ke 3 ku dalam 29 hari hingga hari itu. Rencana mendaki gunung Batukaru sebenarnya sudah ada dikepala ku sejak bulan maret awal. Keinginan ini tiba-tiba muncul di satu siang setelah Savita menceritakan tentang seorang temannya yang pernah mendaki gunung Batukaru. Setelah diceritakan tentang hal itu, aku langsung mencari-cari informasi tentang pendakian gunung Batukaru di kamar mandi kampus lantai 3 sambil BAB. Ternyata informasi mengenai pendakian gunung Batukaru di internet sangat-sangat minim. Bahkan hingga selesai BAB aku tidak mendapatkan informasi yang cukup. Tapi karena rasa ingin mendaki gunung Batukaru sangat besar saat itu, selepas BAB aku langsung mengajak Alek, Rika, dan Savita untuk mendaki gunung Batukaru di tanggal 29 maret. Tapi terlalu banyak jadwal mereka yang berbenturan di tanggal tersebut. Hingga diputuskan pendakian gunung Batukaru mungkin baru bisa dilakukan di bulan mei.
Sebelum mendaki gunung Batukaru aku lebih dahulu mendaki gunung Abang dan Ijen beberapa waktu sebelumnya. Kisahnya aku tulis juga dihalaman blog ku. Menjelang hari H, skuad yang akan ikut masih belum pasti, padahal beberapa minggu sebelum pendakian ada banyak orang yang terlihat antusias untuk ikut, tapi tiba-tiba membatalkan beberapa hari sebelum hari H. bahkan hingga H-1 kami masih kekurangan 1 orang agar skuad kami genap 10 orang untuk pendakian ini. Pada akhirnya kami genap 10 orang dengan masuknya fredy sebagai anggota terakhir, dengan ini berarti hanya 2 orang dari kami yang baru pertama kali melakukan pendakian gunung, yaitu Gita dan Joe sedangkan sisanya yaitu, aku, alek, Savita, ningrat, locong, rika, fredy dan yudik sudah pernah mendaki gunung sebelumnya. Jauh sebelum hari H aku memiliki rencana untuk melakukan pendakian ini pagi hari sehingga kami bisa melihat sunset ketika tiba di puncak. Tapi karena sebagian besar dari kami masih di kejar tugas kuliah di hari pendakian, akhirnya moment melihat sunset ini kami dapatkan ketika tiba di basecamp gunung Batukaru, yaitu di pura Malen.
Perjalanan kedesa Pujungan, Tabanan memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan sepeda motor dari Denpasar. Kami tiba di basecamp sekitar jam 6 sore. Basecamp gunung Batukaru via desa Pujungan berada di sekitar 1000mdpl. Setelah melakukan registrasi dan sembahyang, pukul 7 malam pendakian dimulai dengan tos “ashwaskdkdyaukdrhkkavn” (anggap saja suara tosnya seperti itu karena memang tidak jelas).
Perjalanan kami disambut oleh kunang-kunang dan tanjakan disertai beberapa bonus diawal pendakian. Beberapa kawan-kawan dibelakang beberapa kali juga terlihat saling bertukar tas bawaan diawal perjalanan kami.
Dibawah tadi ketika registrasi, bapak penjaga basecamp mengatakan hanya akan ada satu persimpangan, setelah itu pendaki hanya tinggal mengikuti trek hingga sampai di puncak. Aku yang memimpin didepan sebenarnya menyadari ketika sampai di persimpangan yang dimaksud bapak tadi, tapi aku kira jalan manapun yang dipilih akan menuju ujung yang sama (seperti persimpangan umumnya digunung), selain sebenarnya aku juga sudah memeriksa persimpangan ini, tapi karena jarak pandang yang sangat minim di malam hari membuat ku yakin persimpangan ini berakhir diujung yang sama. Sayangnya kala itu aku salah, pukul 8 malam, jalan yang aku pilih membawa kami ke trek tanpa tanjakan bahkan beberapa kali menurun. Sebenarnya aku sudah mulai curiga, tapi “coba jalan saja dulu” begitulah kira-kira yang ada dipikiran ku saat itu.
Ketika kami terus mengikuti trek “salah” ini, kami dihadang oleh pohon besar yang tumbang di trek yang lumayan ekstrim menurutku. Dengan susah payah kami melewati pohon tumbang itu ditengah malam dengan pencahayaan yang hanya bersumber dari senter dan headlamp. Beberapa dari kami terjatuh ketika berpijak pada batang pohon tumbang ini, kelak peristiwa jatuh itu disebut sebagai “hanya akting” untuk menyembunyikan rasa malu yang lebih besar ketimbang rasa sakitnya. Setelah melewati hadangan itu, kami terus melanjutkan perjalanan hingga trek benar-benar terus menurun. Akhirnya kami berhenti, aku dan ningrat memutuskan untuk sedikit berjalan kedepan melihat apa yang ada didepan sana, sedangkan yang lainnya melakukan live di sosmed (oke mantap). Trek menanjak yang kami harapkan ternyata hanya angan-angan, didepan ku saat itu yang kulihat malah jalan yang sangat menurut ditambah lebar jalan yang semakin menyempit. Alek memperlihatkan aplikasi Stravanya, disana terlihat trek yang kita telah lewati memang sedikit janggal seolah berjalan menjauhi arah ke puncak gunung. Aku langsung ingat dengan persimpangan yang tadi aku lewati. Oke akhirnya kami putuskan untuk kembali menuju ke persimpangan tadi. Bayangkan, kami harus melewati pohon tumbang besar tadi lagi, dan sekarang harus sedikit mamanjat untuk melewatinya, karena pohon tumbang ini ada di trek yang menanjak dari arah kami saat itu. Untuk memudahkan para wanita melewati pohon tumbang ini, ningrat membuka tali pramuka yang dibawanya kemudian dililitkan pada suatu pohon. Cara ini sebenarnya tidak terlalu efektif entahlah karena apa, yang pasti aku harus terpeleset dan jatuh beberapa kali ketika membantu mereka untuk naik. Setelah perjuangan yang kami lakukan, kami semua berhasil melewati pohon tumbang itu lagi.  Dititik setelah melewati pohon tumbang ini alek mengatakan salah satu dari kami sebaiknya memeriksa terlebih dahulu persimpangan tadi, mungkin dia ingin melakukan ini karena tidak melihat persimpangan tersebut, dan lebih baik tidak semua langsung kesana, agar jika ternyata tidak ada maka tidak semua dari kita harus bolak-balik. Sebenarnya menurutku tidak masalah semua dari kita kembali, karena aku yakin persimpangan tadi adalah jalan yang tepat, mungkin karena aku berada paling depan dan memperhatikan jalan. Tapi tak apalah kita periksa saja dulu, lagi pula yang akan memeriksa adalah aku dan alek, kita bisa kembali dengan berlari. Kemudian aku meninggalkan tas dan berjalan dengan cepat bersama alek menyusuri jalan tadi hingga bertemu persimpangan yang kami maksud itu. Ditengah jalan aku tiba-tiba berhenti karena tidak sengaja menyenter (menyinari dengan cahaya senter) daun paku yang berputar-putar sendiri sedangkan daun lain disekitarnya tidak bergerak sedikit pun. Sumpah, aku sangat kaget saat itu, rasanya jiwa ku benar-benar tersentak. Aku hanya diam, tidak mengeluarkan suara terlebih mengucap kata. aku tak ingin alek juga menyadarinya, aku tidak ingin kita berdua sama-sama merasa takut (beberapa waktu setelah pendakian kami, aku baru tau jika ternyata alek juga melihat hal tersebut dan berpikiran yang sama). Kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di persimpangan yang tadi kami lewati. Aku berteriak “Ningggggg”, tapi baru setelah beberapa menit ada balasan (mungkin suaru ku delay). Aku dan alek kemudian kembali dengan berlari, entah karena ingin buru-buru atau takut, anggap saja karena ingin buru-buru. Aku berlari dengan berteriak meminta mereka bersiap untuk kembali. Setibanya dilokasi dimana kawan-kawan lain menunggu, aku dan alek bergegas mengambil tas kami, kemudian berjalan kembali menuju persimpangan tadi. diperjalanan menuju persimpangan, aku memperhatikan sepanjang jalan berharap melihat kembali daun yang berputar tadi, tapi sayangnya aku tak menemukannya.
Setibanya di persimpangan, kami memilih jalan yang tidak kami pilih tadi. Akhirnya trek mulai menanjak, aku merasa sangat lega walau aku tau pendakian yang sebenarnya baru akan dimulai dari sini. Jalur pendakian dimulai dari sini penuh dengan tanjakan tanpa bonus hingga tiba di post 1. Kami tiba di post 1 pukul 9 malam, post 1 berada pada di ketinggian 1300mdpl. Setelah sembahyang dan berisitirahat 15 menit, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dalam benak ku saat itu, kita bisa tiba di puncak sebelum tengah malam.
Beberapa tanjakan setelah post 1 kami mendapatkan bonus trek landai yang cukup panjang. Di trek landai ini Savita terjatuh karena tersandung akar pohon dan menghantam akar tersebut dengan wajahnya dengan sangat keras. Aku dan fredy yang ada berada didepan seketika menengok kebelakang dan berlari kearah Savita yang sudah tergeletak di tanah sambil teriak panik dan menangis. Aku berusaha untuk menenangkannya dan memintanya untuk tidak panik. Jujur sebenarnya saat itu aku juga takut jika terjadi hal yang serius padanya, mengingat matanya juga terbentur akar pohon. Tapi aku sadar, panik tidak akan menyelesaikan masalah. Gita dan Rika membersihkan mata dan wajah Savita dengan tisu basah, sedangkan yang lainnya berisitirahat dan membuka bekal makanan untuk mengganjal perut (kita memang tidak bisa melakukan apa saat itu). Aku tau lagi-lagi Savita yang mengalami ini, dan seperti biasa dia merasa tidak enakan karena merasa menghambat perjalanan kita, dan seperti biasa juga kita tidak ada masalah sedikitpun dengan semua ini, hanya karena kejadian ini, kawan-kawan yang membuly Savita sepanjang perjalanan tadi mulai sedikit terdiam hingga kelak Savita yang mengakhiri “gencatan senjata” ini ketika ia sudah merasa baikan.
Sekitar 1 jam kami beristirahat hingga Savita merasa baikan. Ketika badan kami sudah merasa dingin karena basah baju oleh keringat yang mulai menyentuh kulit, aku meminta Savita untuk berjalan perlahan sambil kutuntun karena pengeliatannya sedikit terganggu. Aku takut jika terlalu lama kami diam di tengah malam akan membuat kami terserang gejala hiportemia. Dari titik ini pula cerrir ku ditambah 1 tenda kami dibawa alek, karena aku harus menuntun Savita selama perjalanan. Awalnya cara ini tidak melelahkan sama sekali, bahkan lebih ringan dari harus membawa carrier + tenda, tapi semakin jauh berjalan rasanya lumayan melelahkan juga, ini mungkin karena aku tidak hanya harus menopang beban bawan ku, tapi juga menjaga tumpuan Savita dengan memegangi tangannya agar ia tidak jatuh lagi. Alek dan fredy membawa carrier yang paling berat dari kami semua (carrier yang dibawa freddy tersebut sebenarnya milik joe, karena tidak kuat, joe bertukar bawan dengan fredy). Tapi menurutku bawaan alek jauh lebih berat, itu karena carrier ku memiliki backsystem yang tidak terlalu bagus ditambah ia harus memikul tenda dan barang bawaan ku didalamnya. Di perjalanan menuju post 2 alek dan fredy mendahuli kami, itu karena kami berjalan tidak terlalu cepat dan hanya membuat mereka semakin merasakan beban bawaan yang berat itu. Mereka berjalanan didepan agar dapat beristirahat lebih lama ketika kami yang dibelakang memutuskan untuk berhenti sejenak.
Di suatu jalan yang cukup terjal menanjak dan sempit, kami berhenti secara darurat untuk memakan apa saja yang bisa di makan dari dalam tas yang kami bawa. Bibirku sudah terasa pahit, dan badan ku terasa dingin jika berhenti terlalu lama seperti ini. Aku meminta madu yang di bawa Savita saat itu, sedangkan kawan-kawan lain memakan bekal bawaan mereka untuk sekedar mengganjal perut. Sepanjang jalan dari post 1 tadi aku terus melihat altimeter dari handphone ku, setiap kali melihatnya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tinggal sedikit lagi menuju puncak, padahal kenaikan ketinggianya sangat sedikit setiap kali aku memeriksanya. Aku merasa mental ku sedikit tersentil. Dasar payah.
Pukul 0.41 dini hari kami tiba di post 2 di ketinggian 1850mdpl, “lagi dikit aja…” ucap ku dalam hati. Kami beristirahat dan membuka kembali bekal yang masih tersisa. Entahlah berapa lama kami berisitirahat disini. aku meminta untuk melanjutkan perjalanan ketika badan ku mulai mendingin, “pelan-pelan saja tak apa” kata ku. Alek dan fredy berjalan lebih dulu. Meninggalkan post 2, beberapa vegetasi terlihat mulai tidak terlalu tinggi tanda puncak sedikit lagi (padahal sebenarnya tidak). Rumput-rumput mulai basah karena sayong turun dengan lembut. Tak jauh dari post 2 kami melihat pemandangan bintang dan bimasakti diatas kepala kami yang sangat-sangat indah yang jelas terlihat karena tak ada pohon yang menghalanginya. di tempat yang sama, lampu rumah penduduk terlihat tak kalah cantiknya dari titik ini. Aku benar-benar terposona malam itu, aku semakin ingin untuk melihat lebih banyak hal-hal menakjubkan seperti ini ditempat yang berbeda di planet yang indah ini. Sayang kami tak bisa berlama-lama disana karena harus melanjutkan perjalanan agar tak terlalu pagi sampai di puncak.
Setelah perjalan tersengal-sengal, sangat lambat, dan sangat dingin karena angina kencang, kami tiba disebuah tanah landai dimana disana terdapat pelinggih. Kelompok dibagi menjadi 3 waktu itu, aku dan Savita merupakan kelompok ditengah, sebelum kelompok fredy, locong, rika, dan gita dan sesudah kelompok alek, ningrat, yudik, dan joe. Semua telah kehabisan tenaga, semua badan terutama kaki sudah terasa letih, dan semua mulai mengantuk. Fredy dan locong memutuskan berjalan duluan, disusul oleh aku dan para wanita. Sebelum aku meninggalkan tempat itu, alek, ningrat, yudik, dan joe terlihat memejamkan mata. Aku takut mereka semua kebablasan tidur, jadi kuingatkan untuk tetap terjaga.
Beberapa langkah dari titik istirahat tadi, dari kejauhan terdengar suara teriakan fredy yang mengatakan ia sudah sampai puncak, kami bergegas mempercepat langkah. Sebelum tiba dipuncak ada satu tanjakan yang mengharuskan kami menggunakan kain seperti tali yang disediakan disana (entah oleh siapa, tapi terimakasih) untuk mendaki trek tersebut. Setelah itu jalan terbilang landai tetapi ditutupi semak dikiri dan kanan. Jenis tanamannya seperti tanaman pada labirin yang ada di film-film. Karena jalannya cukup sempit dan dedaunannya basah terkena sayong, celana yang ku kenakan jadi basah seperti kehujanan (kelak ini akan sangat mengganggu saat tidur, karena aku tak membawa celana ganti).
Sekitar pukul setengah 4 pagi akhirnya kami tiba dipuncak tertinggi gunung Batukaru. Aku meminta beberapa dari kami untuk segera mendirikan tenda bersama ku, sedangkan sisanya memasak air dan mebanten di pelinggih yang berada di puncak gunung Batukaru ini. Semua berjalan baik awalnya, hingga tersisa tenda terakhir, seluruh pasukan pendiri tenda membubarkan diri menuju ke tempat masak. Menyisakan aku dan locong aku mendirikan tenda terakhir dengan sedikit emosi (sepertinya tidak sedikit sih) ditambah rasa lapar, lelah, dan tentu saja mengantuk. Ketika tenda terakhir telah berdiri, aku memutuskan untuk tidak makan karena rasa lapar ku telah hilang dikalahkan dengan rasa lelah dan ngantuk, juga rasa malas bergabung dengan kawan-kawan lain. Aku tau ini tindakan yang sangat egois dan benar-benar tidak perlu dilakukan di moment seperti itu. Aku juga sadar aku dikalahkan lagi oleh watak emosian ku. entahlah, tapi semoga kawan-kawan ku mengerti perasaan ku saat itu dan dapat memakluminya.
Pukul 6 pagi aku terbangun oleh dingin yang sangat terasa di kaki ku karena celana yang basah terkena butir hujan diperjalanan tadi. Perutku juga terasa lapar karena tidak makan semalaman. Aku memutuskan untuk keluar tenda, membawa bekal makan ku, dan menghidupkan kompor untuk memasak air sambil menghangatkan diri. Pagi itu aku memasak air hangat untuk membuat susu sebagai pelengkap sereal coco crunch yang ku beli dengan sangat menyesal seharga 12.000 yang seharusnya dapat untuk membeli makanan yang lebih mengenyangkan. Ketika sedang menikmati sarapan ku, sekelompok pendaki datang dari arah jalur pendakian jatiluwih. Aku sempat mengobrol dengan mereka, menanyakan asal dan menawarkan kopi hangat yang untungnya mereka tolak karena kebetulan aku juga tidak membawa kopi. Beberapa menit setelah pendaki tadi memutuskan untuk menggelar matras di sebelah tenda kami, kawan-kawan perempuan ku terbangun dan keluar dari tenda tangah, diiringi dengan suara berisik kawan-kawan lain dari dalam tenda. Sekitar pukul 8 pagi aku menyelesaikan sarapan ku yang belum habis. Rasa mules karena efek susu yang ku makan bersama sereal tadi memaksa ku untuk BAB di atas gunung. Untungnya aku sudah memiliki keahlian ini sejak kecil, dulu waktu ku kecil setiap kali pulang kampung aku terpaksa buang air besar di kebun karena keterbatasan air dan kamar mandi di desa ku. Bahkan ketika air sudah cukup tersedia dan kamar mandi sudah lebih baik, aku tetap memilih untuk buang air besar di kebun, karena rasanya memang sangat nyaman dan seperti menyatu dengan alam wkwkwk. Ceboknya dibantu dengan batu dan beberapa daunan basah yang diambil dari sekitar lokasi TKP, setelah ritual selesai seluruh barang bukti dikubur dengan rapi agar tidak menjadi ranjau darat. Oke kembali ke cerita, berbeda dengan saat kecil dimana cebok ku di bantu dengan batu dan daun, saat itu aku membawa beberapa tisu basah dan tisu kering. Ketika aku kembali ke tenda, seluruh kawan-kawan ku telah bangun dan sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku bergabung dengan mereka yang sibuk mengabadikan moment dan pemandangan. Cukup lama kami mengambil foto sebelum beberapa kelompok pendaki tiba di puncak dan membuat puncak cukup ramai. Kami pun harus bergantian beberapa kali dengan kelompok lain yang juga ingin berfoto di beberapa spot di puncak gunung Batukaru ini. Sekitar pukul 10 aku masuk ketenda tengah dan memutuskan untuk memejamkan mata sejenak berusaha tidur untuk mengganti waktu tidur ku yang sangat minim tadi pagi. Tapi ini sia-sia, aku tidak dapat terlelap dalam tidur. Karena tidak bisa tidur, aku memutuskan untuk keluar, memidahkan kompor dari yang sebelumnya dibelakang tenda menuju ke depan tenda, karena tempat masak dibelakang digunakan oleh pendaki lain untuk menikmati bekal makan mereka. Ohiya, pada pendakian kali ini, aku juga kembali membawa telur mentah yang kusimpan di dalam bekas kotak handpone dan berhasil ku bawa hingga puncak tanpa pecah lagi yeahhh. Kemudian aku memasak sarimi isi 2 + telur yang memang sangat nikmat jika disantap di atas gunung dengan kondisi perut lapar. Setelah beres makan, kami memutuskan untuk membongkar tenda. sebelum kembali ke basecamp kami menyempatkan untuk mengambil foto bersama. Aku juga beberapa kali meminta untuk difotokan ketika langit tidak ditutupi awan secara penuh. Melihat awan yang ada dibawah atau sejajar dengan kita memang menjadi hal yang sangat aku suka dan ku cari hingga saat ini.
Pukul 11 pagi kami meninggalkan puncak gunung Batukaru dengan dua rubishbag yang dibawa bergantian hingga ke basecamp. Kelak ketika rubishbag dibawa oleh alek, rubishbag tersebut dilempar atau digelindingkan dari posisi yang lebih tinggi agar dapat menuruni gunung dengan cepat menurut dia. Sepanjang perjalan kami bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang dimainkan melalui handphone siapapun yang kebetulan ada sinyal yang tersambung ke speaker wairless tergantung di carrier ku. Ditemani kabut tipis yang turun menjelang tengah hari, Susana hutan yang sejuk dan lagu yang kebetulan dimainkan sesuai dengan kondisi hati, membuat moment tercipta sangat indah hari itu. Kami beristirahat beberapa menit di pos 2 sambil menikmati sisa air dan makanan kami sebelum kembali melanjutkan perjalanan turun menuju basecamp. Mendekati pos 1 kecepatan berjalan ku meningkat. Aku mengikuti yudik yang berlari menuruni pijakan akar dan tanah satu persatu agar speaker yang tergantung di carrier ku tidak kehilangan sinyal bluetouth dari handphone yudik. Di pos 1 kami berisitirahat sejenak, mengambil nafas, sambil meneguk sisa-sisa air minum terakhir kami. Kelompok di bagi menjadi dua sejak turun dari puncak tadi, yaitu rombongan didepan yang dipimpin fredy diikuti locong, dan para wanita. Sedangkan sisanya terpaut beberapa meter dibelakang mereka. Kelompok pertama meninggalkan pos 1 lebih dulu yang kemudian diikuti oleh aku dan yudik beberapa menit selanjutnya meninggalkan joe, alek, dan ningrat yang menyusul tak lama setelah kami meninggalkan pos 1.
Beberapa meter dari pos 1 alek mengatakan akan melempar rubishbag yang dibawanya ke posisi ku yang berada dibawahnya. Aku mengatakan, silahkan lemparkan saja, aku akan berlari menghindarinya. Kemudian ketika aku berlari, rubishbag itu mengenai kepala ku dengan cukup keras dibarengai dengan teriakan ninggrat yang memperingati ku untuk awas. Lemparan rubishbag yang mengenai kepala ku membuatku terpental cukup jauh. Rasanya seperti terkena bola semangatnya Goku di film Dragon Ball. Aku bertirak “WHATTT THEE FUCKK JUSST HAPPENED” karena kaget. Sebenarnya rasa sakitnya tidak seberapa, hanya rasa kaget dan rasa malunya sungguh melampaui rasa sakit. Aku yang masih sedikit shock segera bangkit kemudian berjalan lebih cepat meninggalkan mereka yang masih tertawa.
Sekita pukul 5 sore kami tiba di basecamp. Setelah sembahyang dan berisitirahat sejenak kami memutuskan untuk makan di salah satu warung yang ada di ujung jalan masuk ke basecamp gunung Baturkaru. Diperjalanan menuju warung aku merasa badan ku lemas dan dingin, mungkin ini efek belum makan dan kurang cukup tidur.
Pukul 6 sore kami meninggalkan desa pujungan untuk kembali ke Denpasar dan mengakhiri petualangan kami kali ini.

Atas apa yang telah aku tanyakan diatas tentang dasar sesorang melakukan petualangan, sebenarnya aku sendiri juga belum dapat menjawab pertanyaan tersebut. Tapi aku selalu merasakan sesuatu diakhir sebuah perjalanan ku. Aku selalu merasa lebih hidup setiap kali suatu petualangan ku berakhir. Maksudnya aku merasa lebih memiliki gairah untuk hidup karena aku berkeinginan harus melihat lebih banyak hal keren lagi di planet ini, seperti bintang yang terasa dekat di atas kepala, langit yang lebih berwarna, awan-awan lembut yang terasa dekat, ombak yang lebih tinggi, dan banyak hal lagi yang belum bisa ku sebutkan karena belum ku lihat. Jadi aku rasa jawaban ku saat ini adalah karena dengan berpetualang aku merasa lebih hidup sebagai manusia. dan mungkin jika aku terus mencari, pada akhirnya aku bisa menjawab satu persatu pertanyaan tentang hidup berdasarkan apa yang telah aku lihat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERAN DATABASE DALAM APLIKASI MEDIA SOSIAL DAN JEJARING SOSIAL

Mengurutkan bilangan dengan C

Membuat segitiga siku siku berisi bilangan berurut dengan C

Pengertian dan Manusia Sebagai makhluk Sosial Dan Individu Serta Dampak Media Sosial dan Jejaring Sosial terhadap Manusia

Menuliskan Data Laporan kedalam File .txt dengan C

Hubungan Sosial Media Dengan Etika Komputer dan Etika Internet

Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial

Review Aplikasi kaskus, Nelayan dan Sebangsa

Gunung Batur, 10 juli 2017