Belajar Sedikit Makna Perjalanan di Gunung Batukaru
Apasih
sebenarnya dasar seseorang melakukan petualangan ? apakah untuk sekedar
menghilangkan penat ? atau hanya sebagai ajang pamer di sosmed ? atau bagaimana
jika ku ubah pertanyaannya menjadi, mengapa seseorang menolak jika diajak
berpetualang ? apakah karena ia tidak suka jalan-jalan ? atau sedang tidak
punya uang ? atau apa ?
Pendakian gunung
Batukaru pada 3 mei 2019 menjadi pendakian gunung ke 3 ku dalam 29 hari hingga
hari itu. Rencana mendaki gunung Batukaru sebenarnya sudah ada dikepala ku
sejak bulan maret awal. Keinginan ini tiba-tiba muncul di satu siang setelah
Savita menceritakan tentang seorang temannya yang pernah mendaki gunung
Batukaru. Setelah diceritakan tentang hal itu, aku langsung mencari-cari
informasi tentang pendakian gunung Batukaru di kamar mandi kampus lantai 3
sambil BAB. Ternyata informasi mengenai pendakian gunung Batukaru di internet
sangat-sangat minim. Bahkan hingga selesai BAB aku tidak mendapatkan informasi
yang cukup. Tapi karena rasa ingin mendaki gunung Batukaru sangat besar saat
itu, selepas BAB aku langsung mengajak Alek, Rika, dan Savita untuk mendaki
gunung Batukaru di tanggal 29 maret. Tapi terlalu banyak jadwal mereka yang
berbenturan di tanggal tersebut. Hingga diputuskan pendakian gunung Batukaru
mungkin baru bisa dilakukan di bulan mei.
Sebelum mendaki
gunung Batukaru aku lebih dahulu mendaki gunung Abang dan Ijen beberapa waktu
sebelumnya. Kisahnya aku tulis juga dihalaman blog ku. Menjelang hari H, skuad yang
akan ikut masih belum pasti, padahal beberapa minggu sebelum pendakian ada
banyak orang yang terlihat antusias untuk ikut, tapi tiba-tiba membatalkan
beberapa hari sebelum hari H. bahkan hingga H-1 kami masih kekurangan 1 orang agar
skuad kami genap 10 orang untuk pendakian ini. Pada akhirnya kami genap 10 orang
dengan masuknya fredy sebagai anggota terakhir, dengan ini berarti hanya 2
orang dari kami yang baru pertama kali melakukan pendakian gunung, yaitu Gita
dan Joe sedangkan sisanya yaitu, aku, alek, Savita, ningrat, locong, rika,
fredy dan yudik sudah pernah mendaki gunung sebelumnya. Jauh sebelum hari H aku
memiliki rencana untuk melakukan pendakian ini pagi hari sehingga kami bisa
melihat sunset ketika tiba di puncak. Tapi karena sebagian besar dari kami
masih di kejar tugas kuliah di hari pendakian, akhirnya moment melihat sunset
ini kami dapatkan ketika tiba di basecamp gunung Batukaru, yaitu di pura Malen.
Perjalanan
kedesa Pujungan, Tabanan memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan sepeda motor
dari Denpasar. Kami tiba di basecamp sekitar jam 6 sore. Basecamp gunung
Batukaru via desa Pujungan berada di sekitar 1000mdpl. Setelah melakukan
registrasi dan sembahyang, pukul 7 malam pendakian dimulai dengan tos
“ashwaskdkdyaukdrhkkavn” (anggap saja suara tosnya seperti itu karena memang
tidak jelas).
Perjalanan kami
disambut oleh kunang-kunang dan tanjakan disertai beberapa bonus diawal pendakian.
Beberapa kawan-kawan dibelakang beberapa kali juga terlihat saling bertukar tas
bawaan diawal perjalanan kami.
Dibawah tadi
ketika registrasi, bapak penjaga basecamp mengatakan hanya akan ada satu
persimpangan, setelah itu pendaki hanya tinggal mengikuti trek hingga sampai di
puncak. Aku yang memimpin didepan sebenarnya menyadari ketika sampai di
persimpangan yang dimaksud bapak tadi, tapi aku kira jalan manapun yang dipilih
akan menuju ujung yang sama (seperti persimpangan umumnya digunung), selain
sebenarnya aku juga sudah memeriksa persimpangan ini, tapi karena jarak pandang
yang sangat minim di malam hari membuat ku yakin persimpangan ini berakhir
diujung yang sama. Sayangnya kala itu aku salah, pukul 8 malam, jalan yang aku
pilih membawa kami ke trek tanpa tanjakan bahkan beberapa kali menurun.
Sebenarnya aku sudah mulai curiga, tapi “coba jalan saja dulu” begitulah kira-kira
yang ada dipikiran ku saat itu.
Ketika kami
terus mengikuti trek “salah” ini, kami dihadang oleh pohon besar yang tumbang di
trek yang lumayan ekstrim menurutku. Dengan susah payah kami melewati pohon
tumbang itu ditengah malam dengan pencahayaan yang hanya bersumber dari senter
dan headlamp. Beberapa dari kami terjatuh ketika berpijak pada batang pohon
tumbang ini, kelak peristiwa jatuh itu disebut sebagai “hanya akting” untuk
menyembunyikan rasa malu yang lebih besar ketimbang rasa sakitnya. Setelah melewati
hadangan itu, kami terus melanjutkan perjalanan hingga trek benar-benar terus
menurun. Akhirnya kami berhenti, aku dan ningrat memutuskan untuk sedikit
berjalan kedepan melihat apa yang ada didepan sana, sedangkan yang lainnya
melakukan live di sosmed (oke
mantap). Trek menanjak yang kami harapkan ternyata hanya angan-angan, didepan
ku saat itu yang kulihat malah jalan yang sangat menurut ditambah lebar jalan
yang semakin menyempit. Alek memperlihatkan aplikasi Stravanya, disana terlihat
trek yang kita telah lewati memang sedikit janggal seolah berjalan menjauhi
arah ke puncak gunung. Aku langsung ingat dengan persimpangan yang tadi aku
lewati. Oke akhirnya kami putuskan untuk kembali menuju ke persimpangan tadi.
Bayangkan, kami harus melewati pohon tumbang besar tadi lagi, dan sekarang
harus sedikit mamanjat untuk melewatinya, karena pohon tumbang ini ada di trek yang
menanjak dari arah kami saat itu. Untuk memudahkan para wanita melewati pohon
tumbang ini, ningrat membuka tali pramuka yang dibawanya kemudian dililitkan
pada suatu pohon. Cara ini sebenarnya tidak terlalu efektif entahlah karena apa,
yang pasti aku harus terpeleset dan jatuh beberapa kali ketika membantu mereka
untuk naik. Setelah perjuangan yang kami lakukan, kami semua berhasil melewati
pohon tumbang itu lagi. Dititik setelah
melewati pohon tumbang ini alek mengatakan salah satu dari kami sebaiknya
memeriksa terlebih dahulu persimpangan tadi, mungkin dia ingin melakukan ini
karena tidak melihat persimpangan tersebut, dan lebih baik tidak semua langsung
kesana, agar jika ternyata tidak ada maka tidak semua dari kita harus
bolak-balik. Sebenarnya menurutku tidak masalah semua dari kita kembali, karena
aku yakin persimpangan tadi adalah jalan yang tepat, mungkin karena aku berada
paling depan dan memperhatikan jalan. Tapi tak apalah kita periksa saja dulu,
lagi pula yang akan memeriksa adalah aku dan alek, kita bisa kembali dengan
berlari. Kemudian aku meninggalkan tas dan berjalan dengan cepat bersama alek
menyusuri jalan tadi hingga bertemu persimpangan yang kami maksud itu. Ditengah
jalan aku tiba-tiba berhenti karena tidak sengaja menyenter (menyinari dengan
cahaya senter) daun paku yang berputar-putar sendiri sedangkan daun lain
disekitarnya tidak bergerak sedikit pun. Sumpah, aku sangat kaget saat itu,
rasanya jiwa ku benar-benar tersentak. Aku hanya diam, tidak mengeluarkan suara
terlebih mengucap kata. aku tak ingin alek juga menyadarinya, aku tidak ingin
kita berdua sama-sama merasa takut (beberapa waktu setelah pendakian kami, aku
baru tau jika ternyata alek juga melihat hal tersebut dan berpikiran yang
sama). Kami melanjutkan perjalanan hingga tiba di persimpangan yang tadi kami
lewati. Aku berteriak “Ningggggg”, tapi baru setelah beberapa menit ada balasan
(mungkin suaru ku delay). Aku dan alek kemudian kembali dengan berlari, entah
karena ingin buru-buru atau takut, anggap saja karena ingin buru-buru. Aku
berlari dengan berteriak meminta mereka bersiap untuk kembali. Setibanya
dilokasi dimana kawan-kawan lain menunggu, aku dan alek bergegas mengambil tas
kami, kemudian berjalan kembali menuju persimpangan tadi. diperjalanan menuju
persimpangan, aku memperhatikan sepanjang jalan berharap melihat kembali daun
yang berputar tadi, tapi sayangnya aku tak menemukannya.
Setibanya di persimpangan,
kami memilih jalan yang tidak kami pilih tadi. Akhirnya trek mulai menanjak,
aku merasa sangat lega walau aku tau pendakian yang sebenarnya baru akan
dimulai dari sini. Jalur pendakian dimulai dari sini penuh dengan tanjakan
tanpa bonus hingga tiba di post 1. Kami tiba di post 1 pukul 9 malam, post 1
berada pada di ketinggian 1300mdpl. Setelah sembahyang dan berisitirahat 15
menit, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dalam benak ku saat itu,
kita bisa tiba di puncak sebelum tengah malam.
Beberapa tanjakan
setelah post 1 kami mendapatkan bonus trek landai yang cukup panjang. Di trek
landai ini Savita terjatuh karena tersandung akar pohon dan menghantam akar
tersebut dengan wajahnya dengan sangat keras. Aku dan fredy yang ada berada
didepan seketika menengok kebelakang dan berlari kearah Savita yang sudah
tergeletak di tanah sambil teriak panik dan menangis. Aku berusaha untuk
menenangkannya dan memintanya untuk tidak panik. Jujur sebenarnya saat itu aku
juga takut jika terjadi hal yang serius padanya, mengingat matanya juga
terbentur akar pohon. Tapi aku sadar, panik tidak akan menyelesaikan masalah.
Gita dan Rika membersihkan mata dan wajah Savita dengan tisu basah, sedangkan
yang lainnya berisitirahat dan membuka bekal makanan untuk mengganjal perut
(kita memang tidak bisa melakukan apa saat itu). Aku tau lagi-lagi Savita yang
mengalami ini, dan seperti biasa dia merasa tidak enakan karena merasa menghambat
perjalanan kita, dan seperti biasa juga kita tidak ada masalah sedikitpun
dengan semua ini, hanya karena kejadian ini, kawan-kawan yang membuly Savita
sepanjang perjalanan tadi mulai sedikit terdiam hingga kelak Savita yang mengakhiri
“gencatan senjata” ini ketika ia sudah merasa baikan.
Sekitar 1 jam
kami beristirahat hingga Savita merasa baikan. Ketika badan kami sudah merasa
dingin karena basah baju oleh keringat yang mulai menyentuh kulit, aku meminta
Savita untuk berjalan perlahan sambil kutuntun karena pengeliatannya sedikit
terganggu. Aku takut jika terlalu lama kami diam di tengah malam akan membuat
kami terserang gejala hiportemia. Dari titik ini pula cerrir ku ditambah 1
tenda kami dibawa alek, karena aku harus menuntun Savita selama perjalanan.
Awalnya cara ini tidak melelahkan sama sekali, bahkan lebih ringan dari harus
membawa carrier + tenda, tapi semakin jauh berjalan rasanya lumayan melelahkan
juga, ini mungkin karena aku tidak hanya harus menopang beban bawan ku, tapi
juga menjaga tumpuan Savita dengan memegangi tangannya agar ia tidak jatuh
lagi. Alek dan fredy membawa carrier yang paling berat dari kami semua (carrier
yang dibawa freddy tersebut sebenarnya milik joe, karena tidak kuat, joe bertukar
bawan dengan fredy). Tapi menurutku bawaan alek jauh lebih berat, itu karena carrier
ku memiliki backsystem yang tidak terlalu bagus ditambah ia harus memikul tenda
dan barang bawaan ku didalamnya. Di perjalanan menuju post 2 alek dan fredy
mendahuli kami, itu karena kami berjalan tidak terlalu cepat dan hanya membuat
mereka semakin merasakan beban bawaan yang berat itu. Mereka berjalanan didepan
agar dapat beristirahat lebih lama ketika kami yang dibelakang memutuskan untuk
berhenti sejenak.
Di suatu jalan
yang cukup terjal menanjak dan sempit, kami berhenti secara darurat untuk
memakan apa saja yang bisa di makan dari dalam tas yang kami bawa. Bibirku
sudah terasa pahit, dan badan ku terasa dingin jika berhenti terlalu lama
seperti ini. Aku meminta madu yang di bawa Savita saat itu, sedangkan
kawan-kawan lain memakan bekal bawaan mereka untuk sekedar mengganjal perut.
Sepanjang jalan dari post 1 tadi aku terus melihat altimeter dari handphone ku,
setiap kali melihatnya aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tinggal sedikit lagi
menuju puncak, padahal kenaikan ketinggianya sangat sedikit setiap kali aku memeriksanya.
Aku merasa mental ku sedikit tersentil. Dasar payah.
Pukul 0.41 dini
hari kami tiba di post 2 di ketinggian 1850mdpl, “lagi dikit aja…” ucap ku
dalam hati. Kami beristirahat dan membuka kembali bekal yang masih tersisa.
Entahlah berapa lama kami berisitirahat disini. aku meminta untuk melanjutkan
perjalanan ketika badan ku mulai mendingin, “pelan-pelan saja tak apa” kata ku.
Alek dan fredy berjalan lebih dulu. Meninggalkan post 2, beberapa vegetasi terlihat
mulai tidak terlalu tinggi tanda puncak sedikit lagi (padahal sebenarnya
tidak). Rumput-rumput mulai basah karena sayong turun dengan lembut. Tak jauh
dari post 2 kami melihat pemandangan bintang dan bimasakti diatas kepala kami
yang sangat-sangat indah yang jelas terlihat karena tak ada pohon yang
menghalanginya. di tempat yang sama, lampu rumah penduduk terlihat tak kalah
cantiknya dari titik ini. Aku benar-benar terposona malam itu, aku semakin
ingin untuk melihat lebih banyak hal-hal menakjubkan seperti ini ditempat yang
berbeda di planet yang indah ini. Sayang kami tak bisa berlama-lama disana
karena harus melanjutkan perjalanan agar tak terlalu pagi sampai di puncak.
Setelah perjalan
tersengal-sengal, sangat lambat, dan sangat dingin karena angina kencang, kami
tiba disebuah tanah landai dimana disana terdapat pelinggih. Kelompok dibagi
menjadi 3 waktu itu, aku dan Savita merupakan kelompok ditengah, sebelum
kelompok fredy, locong, rika, dan gita dan sesudah kelompok alek, ningrat,
yudik, dan joe. Semua telah kehabisan tenaga, semua badan terutama kaki sudah
terasa letih, dan semua mulai mengantuk. Fredy dan locong memutuskan berjalan
duluan, disusul oleh aku dan para wanita. Sebelum aku meninggalkan tempat itu,
alek, ningrat, yudik, dan joe terlihat memejamkan mata. Aku takut mereka semua
kebablasan tidur, jadi kuingatkan untuk tetap terjaga.
Beberapa langkah
dari titik istirahat tadi, dari kejauhan terdengar suara teriakan fredy yang
mengatakan ia sudah sampai puncak, kami bergegas mempercepat langkah. Sebelum
tiba dipuncak ada satu tanjakan yang mengharuskan kami menggunakan kain seperti
tali yang disediakan disana (entah oleh siapa, tapi terimakasih) untuk mendaki
trek tersebut. Setelah itu jalan terbilang landai tetapi ditutupi semak dikiri
dan kanan. Jenis tanamannya seperti tanaman pada labirin yang ada di film-film.
Karena jalannya cukup sempit dan dedaunannya basah terkena sayong, celana yang
ku kenakan jadi basah seperti kehujanan (kelak ini akan sangat mengganggu saat
tidur, karena aku tak membawa celana ganti).
Sekitar pukul
setengah 4 pagi akhirnya kami tiba dipuncak tertinggi gunung Batukaru. Aku
meminta beberapa dari kami untuk segera mendirikan tenda bersama ku, sedangkan
sisanya memasak air dan mebanten di pelinggih yang berada di puncak gunung
Batukaru ini. Semua berjalan baik awalnya, hingga tersisa tenda terakhir,
seluruh pasukan pendiri tenda membubarkan diri menuju ke tempat masak. Menyisakan
aku dan locong aku mendirikan tenda terakhir dengan sedikit emosi (sepertinya
tidak sedikit sih) ditambah rasa lapar, lelah, dan tentu saja mengantuk. Ketika
tenda terakhir telah berdiri, aku memutuskan untuk tidak makan karena rasa
lapar ku telah hilang dikalahkan dengan rasa lelah dan ngantuk, juga rasa malas
bergabung dengan kawan-kawan lain. Aku tau ini tindakan yang sangat egois dan
benar-benar tidak perlu dilakukan di moment seperti itu. Aku juga sadar aku
dikalahkan lagi oleh watak emosian ku. entahlah, tapi semoga kawan-kawan ku
mengerti perasaan ku saat itu dan dapat memakluminya.
Pukul 6 pagi aku
terbangun oleh dingin yang sangat terasa di kaki ku karena celana yang basah
terkena butir hujan diperjalanan tadi. Perutku juga terasa lapar karena tidak
makan semalaman. Aku memutuskan untuk keluar tenda, membawa bekal makan ku, dan
menghidupkan kompor untuk memasak air sambil menghangatkan diri. Pagi itu aku
memasak air hangat untuk membuat susu sebagai pelengkap sereal coco crunch yang
ku beli dengan sangat menyesal seharga 12.000 yang seharusnya dapat untuk
membeli makanan yang lebih mengenyangkan. Ketika sedang menikmati sarapan ku,
sekelompok pendaki datang dari arah jalur pendakian jatiluwih. Aku sempat
mengobrol dengan mereka, menanyakan asal dan menawarkan kopi hangat yang
untungnya mereka tolak karena kebetulan aku juga tidak membawa kopi. Beberapa
menit setelah pendaki tadi memutuskan untuk menggelar matras di sebelah tenda
kami, kawan-kawan perempuan ku terbangun dan keluar dari tenda tangah, diiringi
dengan suara berisik kawan-kawan lain dari dalam tenda. Sekitar pukul 8 pagi
aku menyelesaikan sarapan ku yang belum habis. Rasa mules karena efek susu yang
ku makan bersama sereal tadi memaksa ku untuk BAB di atas gunung. Untungnya aku
sudah memiliki keahlian ini sejak kecil, dulu waktu ku kecil setiap kali pulang
kampung aku terpaksa buang air besar di kebun karena keterbatasan air dan kamar
mandi di desa ku. Bahkan ketika air sudah cukup tersedia dan kamar mandi sudah
lebih baik, aku tetap memilih untuk buang air besar di kebun, karena rasanya
memang sangat nyaman dan seperti menyatu dengan alam wkwkwk. Ceboknya dibantu
dengan batu dan beberapa daunan basah yang diambil dari sekitar lokasi TKP,
setelah ritual selesai seluruh barang bukti dikubur dengan rapi agar tidak
menjadi ranjau darat. Oke kembali ke cerita, berbeda dengan saat kecil dimana
cebok ku di bantu dengan batu dan daun, saat itu aku membawa beberapa tisu
basah dan tisu kering. Ketika aku kembali ke tenda, seluruh kawan-kawan ku
telah bangun dan sibuk dengan aktifitas masing-masing. Aku bergabung dengan
mereka yang sibuk mengabadikan moment dan pemandangan. Cukup lama kami
mengambil foto sebelum beberapa kelompok pendaki tiba di puncak dan membuat
puncak cukup ramai. Kami pun harus bergantian beberapa kali dengan kelompok
lain yang juga ingin berfoto di beberapa spot di puncak gunung Batukaru ini.
Sekitar pukul 10 aku masuk ketenda tengah dan memutuskan untuk memejamkan mata
sejenak berusaha tidur untuk mengganti waktu tidur ku yang sangat minim tadi
pagi. Tapi ini sia-sia, aku tidak dapat terlelap dalam tidur. Karena tidak bisa
tidur, aku memutuskan untuk keluar, memidahkan kompor dari yang sebelumnya
dibelakang tenda menuju ke depan tenda, karena tempat masak dibelakang
digunakan oleh pendaki lain untuk menikmati bekal makan mereka. Ohiya, pada
pendakian kali ini, aku juga kembali membawa telur mentah yang kusimpan di
dalam bekas kotak handpone dan berhasil ku bawa hingga puncak tanpa pecah lagi
yeahhh. Kemudian aku memasak sarimi isi 2 + telur yang memang sangat nikmat
jika disantap di atas gunung dengan kondisi perut lapar. Setelah beres makan,
kami memutuskan untuk membongkar tenda. sebelum kembali ke basecamp kami
menyempatkan untuk mengambil foto bersama. Aku juga beberapa kali meminta untuk
difotokan ketika langit tidak ditutupi awan secara penuh. Melihat awan yang ada
dibawah atau sejajar dengan kita memang menjadi hal yang sangat aku suka dan ku
cari hingga saat ini.
Pukul 11 pagi
kami meninggalkan puncak gunung Batukaru dengan dua rubishbag yang dibawa
bergantian hingga ke basecamp. Kelak ketika rubishbag dibawa oleh alek,
rubishbag tersebut dilempar atau digelindingkan dari posisi yang lebih tinggi
agar dapat menuruni gunung dengan cepat menurut dia. Sepanjang perjalan kami
bernyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang dimainkan melalui handphone siapapun yang
kebetulan ada sinyal yang tersambung ke speaker wairless tergantung di carrier
ku. Ditemani kabut tipis yang turun menjelang tengah hari, Susana hutan yang
sejuk dan lagu yang kebetulan dimainkan sesuai dengan kondisi hati, membuat
moment tercipta sangat indah hari itu. Kami beristirahat beberapa menit di pos
2 sambil menikmati sisa air dan makanan kami sebelum kembali melanjutkan
perjalanan turun menuju basecamp. Mendekati pos 1 kecepatan berjalan ku
meningkat. Aku mengikuti yudik yang berlari menuruni pijakan akar dan tanah
satu persatu agar speaker yang tergantung di carrier ku tidak kehilangan sinyal
bluetouth dari handphone yudik. Di pos 1 kami berisitirahat sejenak, mengambil
nafas, sambil meneguk sisa-sisa air minum terakhir kami. Kelompok di bagi
menjadi dua sejak turun dari puncak tadi, yaitu rombongan didepan yang dipimpin
fredy diikuti locong, dan para wanita. Sedangkan sisanya terpaut beberapa meter
dibelakang mereka. Kelompok pertama meninggalkan pos 1 lebih dulu yang kemudian
diikuti oleh aku dan yudik beberapa menit selanjutnya meninggalkan joe, alek,
dan ningrat yang menyusul tak lama setelah kami meninggalkan pos 1.
Beberapa meter
dari pos 1 alek mengatakan akan melempar rubishbag yang dibawanya ke posisi ku
yang berada dibawahnya. Aku mengatakan, silahkan lemparkan saja, aku akan
berlari menghindarinya. Kemudian ketika aku berlari, rubishbag itu mengenai
kepala ku dengan cukup keras dibarengai dengan teriakan ninggrat yang memperingati
ku untuk awas. Lemparan rubishbag yang mengenai kepala ku membuatku terpental cukup
jauh. Rasanya seperti terkena bola semangatnya Goku di film Dragon Ball. Aku
bertirak “WHATTT THEE FUCKK JUSST HAPPENED” karena kaget. Sebenarnya rasa sakitnya
tidak seberapa, hanya rasa kaget dan rasa malunya sungguh melampaui rasa sakit.
Aku yang masih sedikit shock segera bangkit kemudian berjalan lebih cepat
meninggalkan mereka yang masih tertawa.
Sekita pukul 5
sore kami tiba di basecamp. Setelah sembahyang dan berisitirahat sejenak kami
memutuskan untuk makan di salah satu warung yang ada di ujung jalan masuk ke
basecamp gunung Baturkaru. Diperjalanan menuju warung aku merasa badan ku lemas
dan dingin, mungkin ini efek belum makan dan kurang cukup tidur.
Pukul 6 sore
kami meninggalkan desa pujungan untuk kembali ke Denpasar dan mengakhiri
petualangan kami kali ini.
Atas apa yang
telah aku tanyakan diatas tentang dasar sesorang melakukan petualangan,
sebenarnya aku sendiri juga belum dapat menjawab pertanyaan tersebut. Tapi aku
selalu merasakan sesuatu diakhir sebuah perjalanan ku. Aku selalu merasa lebih
hidup setiap kali suatu petualangan ku berakhir. Maksudnya aku merasa lebih
memiliki gairah untuk hidup karena aku berkeinginan harus melihat lebih banyak
hal keren lagi di planet ini, seperti bintang yang terasa dekat di atas kepala,
langit yang lebih berwarna, awan-awan lembut yang terasa dekat, ombak yang
lebih tinggi, dan banyak hal lagi yang belum bisa ku sebutkan karena belum ku
lihat. Jadi aku rasa jawaban ku saat ini adalah karena dengan berpetualang aku
merasa lebih hidup sebagai manusia. dan mungkin jika aku terus mencari, pada
akhirnya aku bisa menjawab satu persatu pertanyaan tentang hidup berdasarkan
apa yang telah aku lihat.


Komentar
Posting Komentar