Gunung Batur, 10 juli 2017
19 tahun. Mungkin ketika kita berada diusia ini ego dalam diri kita sangat susah dikontrol, walaupun untuk beberapa orang mereka mampu sedikit mengontrol emosi dan ego dalam dirinya, tetapi menurutku pada masa ini kita cenderung memiliki rasa ingin tau yang lebih, sehingga kadang kita tidak terlalu memikirkan dengan matang apa yang ingin kita lakukan, seberapa besar resikonya, dan bahkan setelah kita tau kita masih akan tetap menjalankannya karna rasa penasaran tersebut.
Hari itu senin, 10 juli 2017 kami
melakukan sebuah perjalanan mendaki gunung batur. Jumlah kami yang naik saat
itu sebanyak 8 orang; aku, ridho, yudik, alek, gemara, gunawan, fredy dan satu
satunya wanita saat itu yaitu savita.
Kami telah merencanakan untuk mendaki
dari jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan ekspetasi ku kita akan naik kepuncak bersama
lebih dari 10 orang, tapi menjelang hari itu banyak dari kami yang berhalangan
dengan berbagai alasan dan beberapa orang memberikan saran untuk menunda dan
mencari hari lain untuk mendaki agar lebih banyak yang bisa ikut. 2 hari
sebelum kami mendaki, seseorang memperingati ku tentang adanya angin muson
timur yang akan menimbulkan hujan badai selama satu minggu dari hari itu, dan
ketika aku dan ridho mengambil bookingan tenda, pemiliki jasa peminjaman tenda
itu juga mengatakan hal yang sama. Tapi dengan yakinnya aku berkata bahwa kita
harus tetap jalan karena ini sudah di rencanakan jauh hari.
Senin pagi beberapa dari kami harus ke
kampus untuk menghadiri workshop (atau seminar atau apa ya aku lupa) , tapi aku
dan ridho hari itu tidak pergi ke kampus karna kami harus mengambil tenda dan
mempersiapkan beberapa barang yang belum didapat yang harus kami bawa. Aku
mengatakan kita harus berkumpul d rumah yudik paling lambat jam 1 siang dan
berangkan maksimal pukul 3 sore karna kita akan menginap dan menderikan tenda
jadi agar tidak terlalu gelap nantinya.
Dan pada kenyataannya kami semua baru
lengkap sekitar jam 3, disertai dengan beberapa barang yang belum lengkap,
seperti masih kurangnya persedian air untuk dibawa, belum ada kayu bakar, dan
beberapa dari kami masih belum membeli makanan. Saat itu aku mengingatkan
kembali jangan membawa makanan yang mengandung sapi, kecuali susu karna itu
memang pantangan yang tidak boleh dibawa untuk pendaki yang aku tau. Jadi
savita dan alek pergi untuk membeli semua barang yang masih kurang tersebut,
dan kami menunggu sambil mengkhawatirkan jam berapa kami akan berangkat.
Akhirnya sekitar pukul 5 sore kami
berangkat dari rumah yudik menuju kaki gunung batur dengan 4 motor yang
terlihat seperti mini truck 2 roda karna begitu banyak bawaan kami.
Ketika kami
sampai di gianyar (aku lupa didaerah gianyar mana) kami melihat ada beberapa
orang dari arah berlawanan berpaikan batman (pengendara motor yang menggunakan
jas hujan), itu membuat kami khawatir bahwa didepan sana sedang turun hujan.
Dan apa yang kami takutkan ternyata benar, hujan turun dengan rintik-rintik perlahan
dan tak butuh waktu lama untuk menjadi deras dan mengkhawatirkan. Jadi kami
berhenti untuk menggunakan jas hujan. Beberapa hari sebelum mendaki, aku yang
mengingatkan dengan wakti-wanti kepada teman-teman ku untuk ingat membawa jas
hujan, tapi malah aku yang lupa membawanya, dan itu membuat aku harus berbagi jas
hujan dengan ridho. Saat masuk kedaerah singapadu hujan yang turun semakin
menjadi-jadi, pakaian ridho basah karna jas hujan bagian belakang kita
digunakan untuk menutupi kayu bakar agar tidak basah. Dengan hujan yang begitu
deras membuat ridho harus membeli sebuah jas hujan baru (padahal yang aku
gunakan adalah jas hujannya, baiknya si ridho). Hujan semakin menjadi-jadi saat
itu, dan kami tidak ingin mengalah pada hujan, jadi kami memutuskan untuk tetap
melanjutkan perjalanan. Ketika sampai dipasar ubud ada sebuah jalan yang
seharusnya adalah jalan satu arah, tapi dengan nekat (tanpa sepengetahuan
kawan-kawan ku) aku memilih melawan arus menerobos jalan satu arah tersebut
diikuti mereka untuk mempersingkat waktu walau beresiko mempersingkat umur kami
(tapi setidaknya umur kami masih bertambah sampai saat ini).
Memasuki daerah tegalalang hingga
sebelum pura batur hujan sedikit mereda, jalan yang kami lalui sangat berkabut
dan semua badan kami sangat kedinginan, bahkan ketika sebuah mobil lewat dari
arah berlawanan, terang lampu mobil tersebut dipadukan dengan kabut tebal
disekitar terlihat seperti cahaya dari surga. Tapi Alam semesta seperti sedang berpihak
pada kami saat itu, ketika melewati pura batur sebelum jalan turuan menuju kaki
gunung, hujan mereda, kami berhenti sejenak sambil menunggu savita dan fredy
mengisi bensin motornya. Aku ingat saat itu aku bahkan tak merasakan tangan dan
kaki ku, benar-benar seperti mati rasa dan kesemutan karna terlalu dinginnya.
Sekitar pukul 8 malam akhirnya kita
sampai di pos lapor gunung batur, anehnya tanah disana bahkan tidak basah
sedikit pun dan saat itu sama sekali tidak ada hujan, jadi kami segera
merapikan jas hujan dan menggunakan sepatu. Savita ditemani fredy saat itu aku
minta untuk menghaturkan canang dipelinggih yang ada disana, sebagai bentuk
syukur atas kelancaran kami bisa sampai ditempat itu dan memohon agar
perjalanan kami selanjutnya berjalan lancar dan seru. Saat itu aku berencana
untuk melapor kepada petugas yang berjaga, tapi kata penduduk yang berada
didekat sana petugas penjaga posnya sudah pulang, jadi tidak masalah jika tidak
lapor yang terpenting kita tau rute atau jalan naik keatas. Ohiya dari kami
semua hanya aku yang pernah sekali naik kepuncak gunung batur sebelumnya, dan
itu juga dalam waktu yang berdekatan jadi aku masih sangat ingat rute dan jalan
menuju puncak saat itu.
Menjelang pukul 9 kami sampai ditempat
yang kami rencanakan untuk berkemah, dan ini sudah sangat-sangat terlambat dari
yang kami rencanakan sebelumnya. Jadi aku membagi tugas kita untuk mendirikan
tenda, menghaturkan canang, dan membuat api. aku lupa bagaimana pembagiannya,
yang pasti kita cukup cepat dalam bekerja saat itu, jadi sebelum pukul 9.30
kita sudah memasak air untuk merebus popmie dan duduk melingkari api unggun
bercerita dan bermain truth or dare (yang tidak berfaedah menurutku). Aku
berpesan kepada mereka bahwa besok pukul 2 kita harus sudah bangun untuk membongkar
tenda dan membereskan areal sekitar
tempat perkemahan kemudian berangkat menuju puncak paling lambat pukul 3 pagi.
Sekitar pukul 10 malam kita semua
masuk menuju tenda masing-masing untuk beristirahat. Saat itu kami mendirikan 3
buah tenda, 1 tenda untuk 3 orang, 1 tenda untuk 4 orang, dan 1 tenda khusus
spesial dibangun untuk savita (tapi didampingi dengan barang-barang bawaan kami).
Sekitar pukul 1 aku dan alek terbangun
karna mendengar suara savita dari tenda sebelah, aku keluar dan memeriksa
tendanya, seingat ku dia bilang dia merasa kedinginan saat itu. Karna sudah
terlanjur bangun aku kemudian menghidupkan kompor dan memasak air untuk membuat
sarapan kami nanti, aku melihat sekelompok orang beristirahat tidak jauh dari
tempat kami berkemah, sepertinya meraka juga akan naik kepuncak. Beberapa saat
kemudian semua dari kami telah bangun dan mempersiapkan sarapan masing-masing
(walau hanya segelas pop mie). Sekitar pukul 2 pagi kami mulai membereskan
tenda dan barang-barang, juga membersikan sampah-sampah kami, kemudian berdoa
sebelum memulai pendakian.
Sekitar pukul 2.30 kami mulai berjalan
dari tempat kami berkemah beserta seluruh barang dan tenda yang tidak bisa kami
tinggalkan disana. Perjalan kami tidak mengalami banyak kendala saat itu, aku
ingat dipertengahan jalan sebelum pos 1 kami melihat banyak lampu disepanjang
jalan yang kami lalui sebelumnya, seperti milky
way tapi diatas tanah, kelak kami menyadari bahwa itu adalah para pendaki
lain yang juga akan naik kepuncak.
Sebelum pukul setengah 4 pagi saat itu
kami telah tiba di pos pertama, ditempat ini terdapat sebuah bangunan seperti
warung tempat dimana biasanya para pendaki beristirahat. Aku meminta savita
untuk menghaturkan canang ditempat ini karna disana terdapat sebuah tugu
pelinggih. kami kemudian melanjutkan perjalanan setalah beberapa saat kami
beristirahat, jarak dari pos 1 menuju puncak tidak sejauh dari tempat kami
kemah menuju pos 1 hanya medannya sedikit lebih susah. Seingat ku tidak ada
halangan berarti hingga kami sampai puncak gunung batur saat itu sekitar pukul
5 pagi dengan kabut yang cukup tebal. Aku dan savita mengaturkan canang dan
sembahyang disebuah tugu yang berada disana kemudian kami duduk beristirahat
didekat tugu tersebut bersama-sama sambil menunggu matahari terbit.
Gemara saat itu membawa sebuah makanan
ringan yang kemudian dibagi oleh kawan-kawan lain, aku tidak ikut dalam pesta
yang mereka adakan saat itu, tapi setau ku terjadi kejadian yang konyol. Gemara
mengatakan yang dia bawa adalah sebuah snack BBQ rasa ayam, yang kemudian membuat
yang lain tersentak kaget karna BBQ sudah pasti berbahan sapi. Tapi karna semua
sudah tertelan dan melewati tenggorakan, mereka hanya bisa menyesal tapi senang
karna perut sedikit terisi.
Sekitar pukul
6 pagi matahari mulai menampakan dirinya disertai kabut yang kian memudar, kami
kemudian mengambil banyak foto saat itu.
Cerita
selanjutnya kurang maksimal karna hampir 11 bulan setelah petualangan kami ini,
aku baru kembali melanjutkan untuk menulis kisah kami, karna kesok sibukan dan
kelupaan. Bahkan ketika memulai untuk
menulis ini lagi, aku harus melihat foto-foto yang kami ambil untuk mengingat
apa yang terjadi saat itu.
aku merasa banyak keseruan yang kami
dapatkan saat itu di puncak, hingga pukul 7 pagi (kalo tidak salah) kami
memutuskan untuk turun menuju tempat dimana kami memarkir kendaraan kami. Kami turun
bersama kabut dari puncak gunung, ini membuat pemandangan dibawah tidak terlihat
begitu jelas karna terhalang kabut. Kejadian yang menurutku akan selalu kami
ingat adalah ketika belum beberapa jauh dari puncak gunung, sebelum pos pertama,
fredy terjatuh cukup extreme. Aku tidak
melihat begitu jelas bagaimana dia terjatuh, tapi sekilas aku melihat itu
sangat dekat dengan jurang dengan gerakan jatuh yang sangat berbahaya dan jarak
dari titik jatuh dengan titik berhenti (seingat ku ia terjatuh dengan berguling)
yang cukup jauh. Tapi kemudian fredy hanya terbangun diiringi dengan senyum dan
tawa kecil darinya, seolah olah memperlihatkan bahwa ia tidak apa-apa. Kemudian
yang pertama kami lakukan adalah menertawainya sambil mengatakan bahwa efek BBQ
party telah memperlihatkan hasil, setelah itu baru menolongnya hehehe. Kemudian
setelah kami melewati pos pertama, gemara adalah korban selanjutnya. Seingatku saat
itu Gemara sang party leader terjatuh, walau tidak separah fredy, tapi seingat
ku menimbulkan luka ditangannya, ini seperti memperlihatkan pada kami bahwa
pantangan itu benar. Tapi untungnya setelah itu tidak ada lagi dari kami yang
mengalami kecelakaan hingga kami sampai ketempat kemah kami semalam. Hal lain
yang kuingat adalah bagaimana kami berdebat tentang memilih tempat makan
setelah turun nanti. aku tidak akan menulis bagaimana perdebatan saat itu karna
dibumbui bahasa yang sedikit rasis, tapi aku yakin hal tersebut akan selalu
kami ingat sebagai kenangan dalam petualangan saat itu.
Selama perjalanan turun kami mengambil
banyak foto yang memperlihatkan indahnya alam yang tuhan ciptakan ini, aku
merasa tidak akan pernah puas untuk datang melihatnya lagi dan lagi.
Sampai ditempat dimana kami berkemah hari
sebelumnya, kami kembali mengambil foto bersama yang pemandangannya tidak kalah
keren dari diatas tadi.
Setelah kami beristirahat sejenak dan berdebat (lagi)
ingin makan dimana, kami memutuskan untuk makan gurami nyatnyat disalah satu
warung makan dipinggir danau batur, dan kemudian kembali kerumah masing-masing
dengan harapan akan kembali lagi ketempat itu suatu hari nanti.
Aku merasa ini adalah salah satu petualangan
ku yang menarik yang pernah aku lakukan. Walau ego dalam diri kita kadang
menang, tapi setidaknya itu akan menimbulkan hal baru, tinggal bagaimana kita
menanggapi dan belajar darinya.
Aku pernah mendengar satu kalimat yang
keren menurutku “semakin dekat suatu petualangan dengan kematian, semakin seru
petualangan itu” tapi aku tidak sepenuhnya setuju.

Komentar
Posting Komentar