Gunung Abang 5 April 2019, Bekal Pendakian Selanjutnya

24 Maret di jalan arah Denpasar - Tabanan terlintas tiba-tiba di pikiran ku untuk mendaki gunung Abang, pikir-pikir sebagai pemanasan sebelum mendaki gunung Ijen 3 minggu dari hari itu. Sore setibanya di Tabanan aku langsung menelpon Yudi untuk mengajaknya mendaki gunung Abang di tanggal 29 maret. awalnya aku ingin pendakian kali ini hanya ber 2 saja, tetapi setelah dipikir-pikir mungkin kami akan mengajak beberapa kawan lagi.

setelah hari itu aku mulai menawari kawan-kawan ku yang mungkin tertarik untuk mendaki bersama, dengan kriteria orang-orang tersebut belum pernah mendaki gunung Abang sebelumnya dengan maksud agar tidak ada yang tau akan seperti apa puncak dan perjalanan menuju puncaknya, karena aku juga belum pernah mendaki gunung Abang sebelumnya. kriteria selanjutnya orang-orang tersebut bukan orang-orang yang akan mendaki gunung Batukaru di rencanaku selanjutnya agar ada cerita-cerita baru dalam perjalanan ku kali ini.
pendakian yang seharusnya kami lakukan di tanggal 29 maret harus diundur karena kawan-kawan yang aku tawari untuk ikut belum memberikan kepastian mendekati tanggal itu, selain juga masalah cuaca yang kurang mendukung menjadi faktor yang membuat ku harus mengundur rencana ini.

akhirnya tanggal 5 april rencana ku terealisasikan. kami mendaki gunung Abang dengan jumlah total 8 orang yaitu, aku, yudi, ningrat, dipa, satria, ria, savita, dan yuriko. 7 orang belum pernah mendaki gunung Abang sebelumnya, sedangkan 1 orang lainnya sudah pernah beberapa tahun lalu. 3 orang akan ikut di pendakian ku selanjutnya ke gunung Batukaru, sedangkan yang lainnya sudah sedikit trauma untuk mendaki gunung lagi, kata mereka.

Rencananya kami sudah harus menuju basecamp di kintamani paling lambat pukul 2 sore dari Denpasar, tetapi seperti biasa kami terlambat. pukul 15.30 kami baru berangkat dari Denpasar dan tiba di basecamp sekitar pukul setengah 5 sore.

setelah mengurus administrasi di basecamp kami langsung menuju titik awal pendakian. titik awal pendakian gunung abang berada di ketinggian 1184 mdpl. kami mulai tracking pukul 18.00. baru di tanjakan pertama, gunung Abang seakan memberikan pemanasan yang membuat kami tidak hanya panas tetapi juga terbakar. Yuriko sudah kelelahan di 10 menit awal pendakian kami, ini membuat kami berjalan cukup lambat dan terbagi menjadi 2 kelompok yaitu, aku, Yudi, dan Yuriko berada di belakang, sedangkan sisanya berjalan lebih dulu beberapa meter di depan kami. sebenarnya aku tidak ada masalah dengan pendakian lambat dan banyak istirahat, menurutku ini lebih baik ketimbang buru-buru tapi memaksakan diri. selain itu, bagi ku dengan berjalan pelan aku dapat lebih menikmati suasana sekitar dan pemandangan yang alam coba pamerkan kepada ku. karena bagiku tujuan mendaki bukanlah puncak, tetapi bagaimana kita menikmati perjalanan dan dapat pulang dengan selamat bersama-sama, puncak itu hanya bonus.

sekitar hampir 2 jam kami berjalan, Ningrat yang berada paling depan tiba-tiba memanggil ku. ternyata di depan kami terpampang jalan longsor dengan tebing di kiri dan kanan yang jika jatuh ke dasarnya sepertinya akan langsung menuju akhirat. setelah berdiskusi aku memutuskan untuk mencoba melewati jalan tersebut dengan berpijak pada semak-semak yang cukup rimbun. Ningrat memberikan headlightnya pada ku, kemudian aku menurunkan keril dan tas kamera dari punggung ku. selanjutnya Ningrat memegangi tangan ku agar jika aku terjatuh setidaknya ada orang yang lebih kuat yang meraih tangan ku. aku berjalan dengan kaki ku meraba-raba semak-semak yang akan ku pijak, tangan kiri ku berpegangan pada Ningrat, sedangkan tangan kanan ku mencoba meraih pohon paku yang tumbuh di pinggir tebing tersebut. Aku dan Ningrat berjalan perlahan-lahan dengan cara ini hingga ke ujung jalan longsor. selanjutnya satu persatu dari kami berjalan melewati semak-semak tersebut dengan berpegangan pada ningrat di tengah jalan dan aku di ujung jalan. terakhir aku harus kembali ke jalan awal tadi untuk mengambil keril dan tas kamera ku. kelak di perjalan menuju post 2 kami bertemu dengan pendaki lain yang turun dari post 2. ketika kami bertanya tentang tanah longsor yang kami lewati, pendaki tersebut mengatakan tidak melewati jalan longsor tersebut ketika naik siang tadi. sepertinya jalan longsor tersebut baru terjadi beberapa jam sebelum kami tiba disana. jika saja alam tidak merestui dan kami datang lebih awal, mungkin saja ketika kami melewati jalan tersebut tanahnya tiba-tiba longsor dan mengakhiri perjalanan kami untuk selamanya. untung saja alam semesta dan gunung abang memberikan kami restuNya hari itu.


pukul 8.14 kami tiba di pos 1. setibanya disana kami langsung melakukan persembahyangan bersama. di post 1 ini aku mempergoki seekor pacet yang tengah bersantap malam di kaki Ningrat, Yuriko kemudian melepas paksa pacet tersebut dengan meneteskan lotion anti nyamuk ke badan si pacet. setelah beristirahat sejenak kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 2.

beberapa langkah dari post 1 kelompok dibagi menjadi 2 lagi. saat itu kami terpaksa membagi kelompok karena Ningrat sudah kelaparan hingga maagnya kambuh, sedangkan Yuriko sudah tidak sanggup berjalan lagi. aku dan Yudi menemani Yuriko sambil meyakinkan bahwa ia pasti mampu berjalan sedikit lagi hingga pos 2. aku meminta Yuriko untuk rebahan di salah satu tanjakan yang sedikit datar. Yuriko mengatakan jika lebih dari 1 jam kelompok di depan belum menelepon untuk mengabari jika mereka sudah sampai pos 2, Yuriko meminta kita untuk turun ke pos 1 dan berkemah di sana. bagi ku itu bukan keputusan bijak, jika kami berkemah di pos 1 artinya kami tidak akan makan karena kompor dibawa oleh kelompok yang di depan, selain itu kelompok yang di depan pun harus tidur dengan 5 orang dalam 1 tenda jika kami harus kembali ke pos 1. aku mencoba memijat Yuriko dan menghangatkan badannya dengan menggosok punggungnya. sekitar 45 menit beristirahat, Yudi mencoba menghubungi kelompok di depan, dan mereka bilang baru saja sampai di pos 2. aku dan Yudi mencoba meyakinkan Yuriko untuk berjalan pelan-pelan, sampai jam brp pun tidak masalah.
beberapa tanjakan menuju pos 2 dari titik kami beristirahat tadi aku mencoba membantu Yuriko untuk menanjak dengan cara mendorongnya dari belakang. aku menanjak terlebih dahulu, menaruh keril dan tas kamera ku di atas, kemudian kembali ke bawah untuk membantu Yuriko, begitu hingga beberapa tanjakan. tetapi fisik ku juga tidak seberapa, jadi setelah beberapa tanjakan terjal aku kehabisan tenaga kemudian memutuskan berjalan bersama-sama mengikuti Yuriko dan berhenti kapan pun ia ingin berhenti. perjalanan menuju pos 2 saat itu terasa sangat-sangat panjang. padahal aku merasa kami sudah melangkah naik cukup  jauh, tetapi altimeter kami tidak menunjukan peningkatan yang signifikan.

akhirnya sekitar pukul 11 malam setelah Yuriko berjuang melawan rasa lelah yang amat sangat, kami berhasil mencapai pos 2. ketika sampai di pos 2 kawan-kawan sudah mulai masak untuk makan malam, tetapi tenda belum berdiri. aku meminta Dipa untuk memasakan ku mie goreng + telur yang berhasil kubawa dari Denpasar tanpa pecah (yeahhh). disaat aku dan kawan laki-laki yang lain mendirikan 2 tenda yang kami bawa, Ningrat melihat mie goreng yang dimasak Dipa untukku seketika berubah jenis menjadi mie kuah. aku kaget, hilang sudah ekspektasi ku untuk makan mie goreng isi 2 + telur rebus di tengah dinginnya malam :((( tapi tidak apa, banyak mengeluh soal makanan tidak membuat kenyang kan.

sebelum tidur aku mencoba membuat api unggun dari ranting pohon yang ku kumpulkan di sekitar tenda dengan korek api anti badai yang baru kubeli beberapa waktu lalu (belajar dari pengalaman di Lombok kemarin), dengan harapan untuk sedikit menghangatkan badan. aku mencoba membakar ranting-ranting tersebut, tetapi terlalu basah untuk terbakar. karena tidak ada hasil, aku masuk kedalam tenda, membuka sleeping bag dan  tidur.

pukul 7 pagi aku terbangun karena obrolan kawan-kawan ku masuk kedalam mimpi dan memaksa ku untuk membuka mata. setelah melipat sleeping bag, aku bergegas keluar tenda dan melihat pemandangan yang luar biasa terpampang jelas di depan mata ku. danau yang biru di atapi awan putih yang terlihat lembut, sungguh sarapan yang menyegarkan mata. ditemani chocolatos hangat, aku transfer semua penglihatan ku saat itu ke dalam memori di otak.

setelah persiapan pribadi dan sarapan masing-masing orang selesai, kami memindahkan semua barang ke dalam 1 tenda dan membongkar satu tenda kosong lainnya. pukul 8 setelah sembahyang di padmasana pos 2, kami semua berjalan menuju puncak, kecuali Yuriko yang memilih untuk tetap di tenda dan tidak ikut menuju puncak pagi itu. sepanjang perjalanan menuju puncak pun kami disuguhkan dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata, di perjalanan menuju puncak kami hanya membawa 1 botol air mineral besar dan 1 tupperware berisi air berkapasitas 750 liter. kelak ketika botol air mineral besar tersebut menyisakan 1/5 sisa air, savita secara tidak sengaja melempar botol tersebut ke arah semak-semak dan tidak dapat diambil kembali. kejadian tersebut membuat kami tidak minum lagi hingga puncak dan saat kembali menuju tenda. selain itu artinya kami juga sudah nyampah di gunung walau benar-benar tidak sengaja, tapi harus diakui nyampah tetaplah nyampah walau tidak sengaja. saat itu, dari hati yang paling dalam dengan penuh rasa bersalah kami meminta maaf kepada gunung Abang.
di perjalanan menuju puncak kami sempat berhenti di salah satu pohon tumbang yang sangat populer di gunung abang dengan pemandangan seperti sedang berada di atas awan. kami akhirnya tiba di puncak gunung abang sekitar pukul 10 pagi. setibanya di puncak kami menghaturkan canang dan puji syukur atas semua restu tuhan dan alam semesta yang menuntun kami hingga di tempat ini. kami menikmati suasana puncak sambil mengambil beberapa foto-foto dan video. dari puncak gunung Abang kami melihat luasnya danau dan cantiknya gunung Batur yang perlahan mulai ditutupi awan.

pukul 11 kami memutuskan untuk kembali ke tenda seiring dengan mulai turunnya sayong dan rintik-rintik hujan.
di titik pohon tumbang tadi kami memutuskan untuk membagi kelompok menjadi 2. aku dan Yudi akan turun dengan sedikit berlari agar dapat tiba di tenda lebih awal untuk membongkar tenda sebelum hujan turun.
  
aku dan Yudi tiba kurang lebih 30 menit dari yang lainnya, dan ketika yang lainnya tiba di pos 2, tenda sudah terlipat rapi. tiba di pos 2 Ningrat mengatakan bahwa kaki Savita keseleo sembari ku lihat Savita berjalan dengan dirangkul oleh Dipa dan Ria, “ini tidak baik” bisikku dalam hati. pukul 12 hingga 1 siang kami masak dan sarapan pagi yang telat, menu makanan siang itu adalah makanan khas gunung lagi, yaitu mie instan. setelah semuanya terkemas dan memastikan tidak akan ada yang tertinggal, pukul 1 siang kami meninggalkan pos 2. di perjalanan turun, aku berada paling belakang seperti sebelumnya, bersama Yudi, Yuriko dan Savita yang harus dituntun karena kakinya keseleo tadi.
perjalan dari pos 2 menuju pos 1 terasa cukup berat bagi savita dengan kondisinya saat itu. Yuriko pun sangat kelelahan menuruni pijakan demi pijakan, sehingga kami menghabiskan banyak waktu untuk istirahat. kami tiba di post 1 sekitar pukul 3 sore ketika yang lainnya sudah menunggu kami sekitar 1 jam. beberapa langkah mendekati pos 1, kaki Savita sudah sangat lemah untuk digunakan berjalan. ketika tiba di pos 1, Savita langsung jatuh lunglai ke tanah karena kakinya sudah tidak kuat menopang badannya. Savita sempat menangis karena merasa dirinya menjadi beban kawan-kawan yang lain. aku rasa wajar ia merasa demikian, tapi aku yakin tak ada satupun dari kawan-kawan ku yang merasa Savita menjadi beban kami saat itu.
aku membuka sandal gunung dan kaos kaki Savita, kakinya terlihat membengkak, aku yakin sekarang ia akan sangat susah untuk berjalan. dengan sedikit membujuknya agar tidak merasa merepotkan ku, aku memintanya untuk kugendong agar tidak membuat cederanya semakin parah.

sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian, hujan turun cukup deras sehingga memaksa kami untuk menggunakan jas hujan. di perjalanan menuju titik awal pendakian ini, kami hanya memiliki sedikit air, itu pun harus dibagi menjadi 2, untuk kelompok di belakang dan kelompok di depan. awalnya, aku menggendong savita dan tasnya ditambah membawa tas yuriko yang aku gendong didepan, tapi aku hanya kuat membawa tas yuriko dan tas Savita itu hingga di ujung jalan longsor (yang telah ku ceritakan di atas) beberapa meter dari pos 1. dari setelah jalan longsor tersebut, tas savita dibawa oleh kelompok di depan, sedangkan tas yuriko yang berisi kompor dibawa oleh dia sendiri. dari titik setelah jalan longsor hingga ke titik pendakian awal, aku yang menggendong Savita ditemani Yuriko berjalan sekitar 3 jam lamanya, sedangkan yang lainnya tiba di titik pendakian awal jauh lebih awal dari kami bertiga. menggendong Savita mungkin adalah salah satu aktivitas terberat yang pernah aku lakukan hingga hari itu. kami berjalan sangat-sangat lambat, aku tak mampu menggendong Savita terlalu lama, hampir setiap 10 menit kami beristirahat untuk mengambil napas. hujan sempat turun semakin deras di langkah-langkah awal kami dari pos 1. kami juga sempat mencoba membuka botol yang dibawa yuriko, berharap botol tersebut dapat terisi dengan air hujan. setiap kali aku dan Savita melewati jalan turunan yang cukup curam, aku meminta Savita untuk turun dengan cara merosot. aku merasa tidak cukup kuat untuk menggendongnya di medan seperti itu, selain jurang di sisi kanan kami membuat ku semakin tidak ingin mengambil resiko. sekitar pukul 5 Yuriko menghubungi Ningrat memintanya untuk menjemput kami dan membawakan minum karena kondisi kami sudah sangat kehausan. tapi kami tidak bisa hanya diam dan menunggu disini, jika kami tidak mencapai titik pendakian awal sebelum pukul 6 sore, mungkin kami akan berjalan ditengah kegelapan tanpa cahaya penerangan, karena tidak ada satupun dari kami bertiga yang membawa senter. sekarang aku merasakan apa yang yuriko rasakan kemarin malam, rasa lelah dan letih di seluruh tubuh. ketika waktu semakin mendekati pukul 6 sore, aku memacu diriku untuk mengurangi waktu istirahat dan berjalan lebih cepat dari sebelumnya. dada ku rasanya panas setelah beberapa menit berjalan tanpa duduk istirahat. rasanya sama seperti ketika kita memaksa diri berlari tanpa istirahat padahal tubuh sudah mencapai batasnya. akhirnya sekitar pukul 6 sore kami bertemu Ningrat dan Yudik yang membawa air minum. tak ada kata yang mampu keluar dari mulut ku saat itu, yang kulakukan hanya meminum air yang dibawa mereka dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. setelah itu Ningrat menggantikan ku menggendong Savita menuju ke titik awal pendakian. kurang dari 30 menit akhirnya kami tiba di titik awal pendakian dengan disambut kawan-kawan yang lain. tidak lama kami disana, setelah mempersiapkan diri untuk pulang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kami langsung menuju basecamp untuk mengambil helm yang kami titipkan kemarin. di basecamp kami sempat memberitahu petugas disana bahwa ada jalan longsor di jalur pendakian sebelum pos 1. ternyata petugas-petugas di sana juga mengatakan tidak mengetahui mengenai longsornya jalan tersebut. pukul 7 malam kami meninggalkan basecamp gunung Abang, singgah makan di salah satu franchise ayam krispi, dan kembali kerumah masing-masing pukul 10 malam. diperjalanan pulang, sempat terlintas di kepala ku dimana dan apa yang kami rasakan beberapa jam yang lalu. sekarang aku merasa aku memang harus lebih melatih fisik ku lagi, agar ketika situasi semacam ini terjadi lagi di pendakian-pendakian ku selanjutnya, aku lebih siap menghadapinya.
hari itu aku belajar banyak hal tentang sebuah perjalanan mengenali diriku lewat pendakian gunung. hari itu juga aku semakin meyakini visi dan pandangan ku terhadap bagaimana seharusnya perjalanan menelusuri indahnya alam itu dinikmati. aku yakin jika ku sebutkan akan banyak mereka yang tidak setuju, tidak apa-apa, itu hak mereka, aku mengerti kebahagian setiap orang diraih dengan cara yang berbeda-beda. terima kasih gunung Abang, sampai jumpa lain waktu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERAN DATABASE DALAM APLIKASI MEDIA SOSIAL DAN JEJARING SOSIAL

Mengurutkan bilangan dengan C

Membuat segitiga siku siku berisi bilangan berurut dengan C

Pengertian dan Manusia Sebagai makhluk Sosial Dan Individu Serta Dampak Media Sosial dan Jejaring Sosial terhadap Manusia

Menuliskan Data Laporan kedalam File .txt dengan C

Hubungan Sosial Media Dengan Etika Komputer dan Etika Internet

Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial

Review Aplikasi kaskus, Nelayan dan Sebangsa

Gunung Batur, 10 juli 2017